Sebelumnya perkenanankan suatu berita dari republika.co.id ini
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di era teknologi yang serba canggih sekarang
ini, tak sedikit orang tua yang memberikan kebebasan kepada buah
hatinya menggunakan gadget. Padahal, anak yang sejak kecil memiliki
ketergantungan pada gadget memicu bahaya. Pasalnya, ketergantungan
tersebut membuat sang anak memiliki hubungan yang kurang baik dengan
orang tuanya.
Hal itu diungkapkan Psikolog anak, Ratih Andjayani
Ibrahim pada sebuah acara peluncuran program pendidikan dan kesehatan di
Jakarta, Selasa (5/6) kemarin. "Rasa adiksi anak pada gadget, dapat
membuatnya bosan dan sulit berkonsentrasi pada dunia nyata, terutama
untuk mendengarkan orang tuanya," ujar Ratih.
Ratih mengatakan,
adiksi pada gadget membuat anak-anak sampai bingung dan galau bila tidak
ada gadget. Padahal, gadget hanyalah sebuah benda yang mereka belum
benar-benar membutuhkannya.
Namun faktanya, pada saat ini kita
hidup dalam era teknologi dan sulit untuk menjauhkan gadget dari
anak-anak. "Kalau kita jauhkan gadget dari anak-anak, nanti mereka jadi
ketinggalan zaman. Namun ada cara untuk membuat anak-anak tidak adiksi
terhadap gadget," imbuh Ratih.
Dijelaskannya, sebaiknya orang tua
mengajari anak dan menjelaskan kapan waktu yang tepat untuk mereka
boleh menggunakan gadget. "Anak tidak akan adiktif kepada gadget, bila
orang tua mampu memberikan kualitas waktu yang baik untuk anak-anaknya,"
kata Ratih menandaskan.
Saya seorang mahasiswa tahun akhir yang mencoba menjadi guru privat dimulai dari jenjang SD-SMP-SMA. Anak - anak yang yang saya temui juga beragam. Kesimpulannya mereka pasti orang yang orang tuanya punya rezeki berlebih karena mengikuti les privat yang sekali ngajar aja bisa 100 ribu bahkan 200 ribu (meskipun saya hanya mendapat 60 - 75 % nya saja). Karena rezeki yang berlebih tersebut tentunya para orang tua mereka tidak ragu untuk membelikan anaknya gadget - gadget mahal.
Selama saya mengajar mereka banyak diantaranya masih menaruh gadget mereka disebelah saat mereka menerima materi yang saya ajarkan. awalnya mereka hanya menggunakan sebagai kalkulator atau menghubungi teman melalui social media "eh besok ulangannya materi apa sih ?" . adalagi malah saya yang dicuekin mereka malah terang-terangan main "Angry Bird" dengan Ipadnya -_-.
Padahal saya yang baru pertama kali mengajar menjadi ragu untuk menegur anak tersebut karena ini kesan pertama saya menjadi tutor mereka kan harus welcome dan bersahabat. adalagi seorang anak SMP yang tergila - gila sama game Assasin Creed satu ini, sampe kebawa - bawa cerita pada saat belajar dengan saya. Sepanjang belajar dia tak mendengarkan materi yang seharusnya besok itu ujian, malah ni anak pas saya lagi kasih soal tiba - tiba berceloteh "aku ingin jadi assasin deh kalo udah gede" ckckck
Dibawah ini ada kesimpulan dari anak yang megalami kenegaifan dari gadget dan konsol2 game lainnya
1. Mengalami penurunan konsentrasi.
Anak mengalami
penurunan konsentrasi saat belajar. Konsentrasinya menjadi lebih pendek
dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Anak lebih senang
berimajinasi seperti dalam tokoh game yang sering ia mainkan menggunakan
gadget-nya.
2. Mempengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan.
Ketika
belajar, anak tidak mau mencari data dan tidak tertantang untuk
melakukan analisis. Anak menginginkan sesuatu yang serba cepat dan
langsung terlihat hasilnya. Ada pun proses untuk mencapai hasil akhir
itu tidak dipedulikan.
3. Malas menulis dan membaca.
Gagdet
menjadikan anak malas menulis dan membaca. Dengan perangkat gadget,
maka aktivitas menulis menjadi lebih mudah, ini memengaruhi keterampilan
menulis anak. Tak hanya itu, perangkat visual pun tampak lebih menarik
dan menggoda, karena dapat memperlihatkan sesuai dengan kenyataan.
Akibatnya anak-anak menjadi malas membaca. Sebab, membaca menuntut anak
untuk mengembangkan imajinasi dari kesimpulan yang dibaca.
4. Penurunan dalam kemampuan bersosialisasi.
Anak
menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar serta tidak memahami
etika bersosialisasi. Anak tidak tahu, bila ada banyak orang
menginginkan sesuatu yang sama, maka wajib antre agar tertib. Ini
terjadi karena anak tidak memahami adanya sebuah proses. Apa yang
diinginkan harus segera ada dan terwujud, karena terbiasa mendapat
pemahaman melalui games atau tontonan.
Sumberhttp://www.kaskus.co.id/thread/50c6d848e874b4687b00004e
Buat para teman - teman bahkan orang tua yang memiliki anak - anak yang demikian, semoga lebih memperhatikan dampak negatif tersebut. karena dampak ini bisa jadi menjadi masalah ketika anak ini beranjak dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar